Piala Citra Festival Film Indonesia telah diberikan pada Rabu (16/12/09) lalu di Arena Pekan Raya Jakarta. Dari 118 judul film Indonesia, telah diseleksi untuk menentukan nominasi di Kota Batu pada Minggu (6/12/09) lalu. Di antaranya, nominasi kategori film terbaik, nominasi sutradara, nominasi pemain wanita terbaik, nominasi pemeran pendukung wanita terbaik, nominasi pemain pria terbaik, nominasi peran pembantu pria terbaik, sutradara terbaik, penata musik terbaik, dan penata suara terbaik.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menargetkan Indonesia mampu memproduksi minimal 200 film dalam satu tahun. Saat ini sineas kita mampu memproduksi rata-rata 90 film dalam setahun. India mampu memproduksi 700 film pertahun dengan jumlah gedung bioskop mencapai ribuan unit. Dengan fakta itu, India mampu menyedot lima juta tenaga kerja untuk masuk dalam sektor perfilman (Gatra, 26/11/09).
Penyelenggaraan Festival Film Indonesia ini memiliki beberapa makna strategis. Pertama, dalam kaitannya dengan pariwisata, perlu semakin dikembangkan film-film bernuansa promosi pariwisata daerah maupun Indonesia secara umum. Film sebagai industri kreatif yang berperan mengangkat suatu tempat (desa, kota, atau negara) sebagai background cerita menjadi ‘alat promosi’ yang efektif untuk berbagai misi, entah itu penggalangan dana, misi kebudayaan dan pariwisata,atau kepentingan-kepentingan lainnya.
Tahun 1990-an, film Cintaku di Way Kambas yang diperankan Mathias Muchus dan Ira Wibowo sempat menyita perhatian publik. Selepas film itu beredar, banyak warga Indonesia tertarik mengunjungi kawasan gajah di Way Kambas, Lampung. Demikian halnya film Denias yang berlatarbelakang Papua, juga menjadi ‘alat promosi’ bagi Papua. Juga, film Laskar Pelangi yang mengangkat novel karya Andrea Hirata dengan background alam Belitung yang eksotik.
Di satu sisi kekurangan dan keterbelakangan suatu daerah yang menjadi background pembuatan film memang suatu ironis dan fakta yang ada di depan mata sampai saat ini. Namun di sisi lain, ‘eksploitasi’ sudut-sudut tempat, kehidupan masyarakat lokal, serta kearifan dan kebudayaan setempat, ketika diangkat dan dikemas dalam sebuah film dengan sentuhan produser dan sutradara handal, menjadi kemasan promosi yang luar biasa. Mengalir bersama ilustrasi dan cerita yang di-setting sang produser dan sutradara, penonton film dikenalkan setiap fakta (baik dan buruknya) tempat yang menjadi background film.
Direktur Usaha Pariwisata Depbudpar, Winarno Sujas, mengatakan, pencitraan Belitung sebagai pulau tambang timah yang erat dengan kerusakan alam, akan segera berubah sebagai daerah tujuan wisata yang kaya akan obyek wisata alam yang menarik untuk dikunjungi wisatawan. Pencitraan tersebut semakin kuat dengan berhasilnya film Laskar Pelangi di masyarakat beberapa waktu lalu (budpar.go.id).
Di tingkat internasional, film dan prestasi atas suatu film turut membentuk citra dan reputasi negara yang menjadi background pembuatan film. Seperti pada bulan November lalu, film Jamila dan Sang Presiden garapan Ratna Sarumpaet mendapat penghargaan pada Asiatica Filmmediale Festival (AFF) yang berlangsung di Roma, Italia. Kedua film itu mendapatkan penghargaan dari “The Network for the Promotion of Asian Cinema” (Netpac), sebuah organisasi perfilman yang beranggotakan sekitar 29 negara dan berkantor di Singapura. Untuk Indonesia, film Jamila dan Sang Presiden merupakan film Indonesia kedua yang mendapatkan penghargaan dari Netpac setelah Bird Man Tale karya Garin Nurgroho yang diberikan di Berlin International Film Festival tahun 2003.
Tahun 2007, film Indonesia menyumbang 7 persen dari keseluruhan ekonomi. Tahun 2002 hingga 2007 menyumbang Rp 105 triliun, dan tahun 2006 sendiri menyumbang Rp 81,5 triliun. Tahun 2002 hingga 2006, 5.4 juta tenaga terserap melalui film. Tahun 2006, 2,2 juta tenaga kerja diserap” (presidensby.info, 8/10). Manakala disinergikan dengan unsur dan sentuhan turisme, niscaya film tidak hanya bermakna ekonomis, tetapi membentuk citra dan menjadi daya tarik untuk mengundang wisatawan berkunjung.
Pertengahan Oktober lalu megabintang Hollywood, Julia Roberts, menjalani shooting terakhir film yang dibintanginya dengan judul “Eat, Pray, Love” di sejumlah tempat di Bali. Film ini menceritakan kisah nyata Elizabeth Gilberth dalam memoarnya. Gambaran kemapanan hidup Gilbert yang ditandai dengan kehadiran suami yang setia, kekayaan, serta karier yang sukses, ternyata bukanlah titik akhir pencarian hidupnya. Dalam persimpangan, ia mengubah jalan hidupnya itu secara drastis. Ia melakukan perjalanan untuk mencari kesejatian hidup itu. Ia menemukan nikmatnya makan di Italia, kekuatan doa di India, serta kedamaian dan keseimbangan cinta di Bali. Pengambilan gambar film Julia Roberts di Indonesia jelas menguntungkan citra Indonesia secara umum di mata dunia, khususnya dampaknya pada kepariwisataan.
Karena itu, film perlu digarap lebih serius dengan pendekatan pasar namun sekaligus memiliki kepekaan dan idealisme sosial yang tinggi. Dalam konteks itu, diyakini bahwa setiap daerah memiliki masalahnya sendiri. Demikian pula misi daerah membangun pariwisatanya, film menjadi instrumen pasar yang bisa dikatakan lebih mudah diakses dan efektif sebagai ‘alat promosi’. Peran industri kreatif, khususnya perfilman, mengangkat daya tarik daerah sebagai background cerita menjadi semakin penting bagi sektor pariwisata di Indonesia secara umum. Film bisa diangkat berdasarkan kearifan-kearifan lokal, sejarah nyata, novel (fiksi), atau kemenarikan masyarakatnya.
