Bangsa Religi dalam Kemasan Turisme

Religiusitas kita sebagai bangsa semakin terasa semaraknya di bulan suci Ramadhan. Tata kehidupan sebagai bangsa yang memiliki dan menjunjung tinggi harmoni dalam keberagaman itulah, Indonesia memiliki daya tarik, keunggulan sekaligus keunikan yang sangat berpotensi sebagai pilar, positioning dan trademark potensi wisata Indonesia di antara bangsa-bangsa di dunia. Persaudaraan, kesalingmengertian dan kebersamaan antara umat yang berpuasa dengan yang tidak berpuasa jelas-jelas adalah hal penting yang amat memikat turis.

City branding “Indonesia the Ultimate in Diversity” secara eksplisit menjelaskan hal itu. Dalam konteks itulah, komunikasi (kampanye) pemasaran Indonesia sebagai destinasi wisata dengan basis masyarakat religius menemukan relevansi dan kontekstualitasnya di bulan suci Ramadhan ini.

Destinasi wisata ziarah terpopuler di jagat raya ini, seperti Masjid Taj Mahal, Tahta Suci Vatican dan Gua Maria Lordes, Prancis, Kuil Ankor Wat dan kuil-kuil Budha di Thailand, merupakan bukti nyata betapa keberimanan dan eksistensi keragaman yang inklusif mampu mendatangkan kesejahteraan ekonomi dan mendongkrak martabat suatu bangsa. Kurang lebih, hal seperti itulah yang salah satunya melatarbelakangi John Naisbitt dalam ramalannya di Global Paradox bahwa industri pariwisata akan menjadi industri terbesar di dunia. World Tourism Organization (WTO) pun juga memprediksikan pada 2010 jumlah pelancong internasional mencapai 1.046 miliar orang dengan nilai sebesar US$ 2 triliun.

Globalisasi memberikan ruang yang lebih luas untuk kemajuan sektor pariwisata. Berbagai segmen dan minat khusus perjalanan wisata dunia tak meninggalkan gairah dan keinginan yang tinggi untuk berwisata ziarah. Keberagaman merupakan salah satu daya pacu di balik kepariwisataan dan dapat mendorong semua negara untuk berbagi kebersamaan yang menguntungkan, dengan membangun ikatan yang kebih kuat satu sama lain. Karena itu, sektor pariwisata juga dipercaya merupakan sarana atau katalisator untuk membangun pemahaman, mendorong inklusi sosial, dan meningkatkan kelayakan standar hidup. Dalam konteks inilah, pengemasan wisata religi di Tanah Air di bulan Ramadhan ini menemukan kontekstualitas dan relevansinya.

Market

Pentingnya pengemasan basis masyarakat religius di Tanah Air sebagai daya tarik wisata religi tak meninggalkan pemahaman tentang peta pasar wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. Pertama, destinasi wisata religi Islam – seperti makam Walisong, makam pemuka agama dan Masjid – mendapatkan perhatian khusus dan mencuat, khususnya di bulan suci Ramadhan hingga Lebaran nanti. Jaringan negara-negara Islam serta negara-negara berkembang yang tergabung dalam D-8, merupakan captive market yang jelas-jelas harus semakin dioptimalkan dan diseriusi. Demikian pula jaringan negara-negara Islam lain yang berada di luar pusaran D-8.

Pada KTT D-8 di Nusa Dua, Bali, pada bulan Mei 2006 menghasilkan Deklarasi Bali. Intinya, bagaimana membangun solidaritas di lingkungan D-8 yang akhirnya membawa dampak ekonomi bagi warganya. Anggota D-8 yang terdiri Indonesia, Malaysia, Pakistan, Iran, Mesir, Turki, Nigeria dan Bangladesh memiliki populasi 500 juta jiwa. Negara-negara tersebut sebagian besar penduduknya merupakan umat Islam. Secara ekonomis ini merupakan potensi pasar wisata yang luar biasa besar pengembangan wisata religi dengan segmentasi keberimanan Islam.

Kedua, salah satu kerajaan besar di Tanah Air, Sriwijaya (abad 7-13), mewariskan tidak hanya kejayaan masa lampau, tetapi juga persemaian iman Budha sekaligus jalinan persahabatan dengan negara-negara lain yang memiliki corak iman mayoritas yang sama. Pada perayaan Waisak nasional 2007 di pelataran Candi Borobudur, Presiden Yudhoyono menyerahkan buku ”Trail of Civilization” kepada Menteri Pariwisata negara yang tergabung dalam Trail of Civilization. Di antaranya, Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Myanmar.

Maksud baik dari penjelajahan peradaban (iman Budha) secara bersama-sama itu, untuk menemukan dan napak tilas jejak leluhur masing-masing negara. Di sini, ada ikatan historis yang tak ternilai harganya, bahwa Indonesia memiliki pertalian sejarah keberimanan yang sama dengan kelima negara tersebut. Ketika penjelajahan itu melintasi batas-batas negara, maka kita berbicara tentang pariwisata. Di satu sisi pariwisata menjadi terdongkrak, dan di sisi lain menggugah kesadaran keterikatan sejarah antarnegara.

Ketiga, gereja Katolik juga membuka diri bagi penumbuhkembangan persaudaraan sejati sebangsa dan antar umat beragama di negara-negara lain melalui pintu pariwisata. Wisata ziarah Katolik yang telah mendunia seperti Gua Maria Sendang Sono dan Gereja Ganjuran di Jawa Tengah yang memadukan gaya bangunan budaya Hindu-Mataram Kuno-Mataram Islam, atau Puh Sarang di Kediri dan Sendang Waluya Jatiningsih di Ponorogo Jawa Timur. Juga, bangunan-bangunan Gereja Katolik di Surabaya yang masuk kategori bangunan cagar budaya.

Meresapi dan menikmati keindahan destinasi wisata religi akan tampaklah kemahakuasaan Tuhan Sang Pemberi Kehidupan, dan akan sirnalah prasangka psimisme kehidupan di bawah keagungan mahakarya ciptaan Allah yang terbingkai dalam suatu Obyek dan Daya Tarik Wisata. Perilaku dan sendi kebutuhan hidup manusia modern dewasa ini pun tak lekang, bahkan semakin merapat, ke tujuan-tujuan wisata untuk mencari, menggali, mengelola dan menemukan kehausan iman akan kebesaran Sang Maha Pencipta. Dan itu semakin terasa dan lestari di bulan suci Ramadhan.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.