Kenali dan Cintai Pahlawan Negerimu

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya! Jangan sekali-sekali Melupakan Sejarah (Jas Merah)! Dua ungkapan Bung Karno tersebut menggema di hari Pahlawan ini dan tetap relevan dengan konteks jaman sekarang ini. Kepahlawanan dan sosok para pahlawan itu sendiri kian tergilas dengan nilai-nilai baru yang mungkin telah dibayangkan akan terjadi manakala Presiden pertama RI itu mengungkapkan hal tersebut. Keringat, darah dan nyawa pahlawan yang gugur di medan pertempuran melawan Belanda, Jepang dan tentara Sekutu tidak hanya penting untuk diceritakan dan diingat dari masa ke masa, tetapi juga dikunjungi dan disentuh secara langsung jejak-jejaknya.

Dalam konteks kepariwisataan, sejarah terjadinya hari Pahlawan yang terbentuk dari babakan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya seharusnya mampu memikat dan menjadi daya tarik wisata. Bagi warga asing yang notabene memahami arti penting nilai sejarah suatu bangsa, pendudukan Belanda, Jepang dan Sekutu di Indonesia beserta jejak-jejak peninggalannya, jelaslah menjadi atraksi wisata yang otentik. Apalagi dengan titel hari Pahlawan yang secara khusus mengenang dan mengapresiasi jasa dan pengorbanan leluhur bangsa Indonesia, mengandung keingintahuan publik asing untuk menyelami lebih dalam melalui aktifitas turisme.

Situs-situs kepahlawanan yang tersebar di berbagai di Tanah Air semestinya juga sama memikatnya seperti warisan Nusantara di masa-masa kerajaan. Masa-masa emas Nusantara di jaman kerajaan dan ketangguhan bangsa Indonesia dalam penindasan penjajahan, sama-sama bermuatan sejarah tinggi. Dua babak sejarah ini juga bermuatan budaya. Jika Candi Borobudur dan Prambanan lebih kental dengan unsur arsitektur, seni dan budaya, maka rumah pahlawan, museum kepahlawanan dan makam para pahlawan menonjolkan heroisme.

Sejarah kerajaan di satu sisi dan perjuangan (revolusi fisik) kemerdekaan RI di sisi lain, tidak dapat dilepaskan satu sama lain dalam dikotomi jaman kerajaan dan jaman penjajahan. Dan karena itu, hari Pahlawan bukan saja mengenang pahlawan yang gugur merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga cikal bakal bangsa Indonesia di masa kerajaan.

Wisata sejarah tidak hanya menarik dari segi ekonomi, tetapi juga memiliki makna simbol, pendidikan dan sejarah itu sendiri. Dengan dikelola lebih baik, wisata sejarah bahkan melebihi potensi dari wisata jenis lain, seperti wisata belanja atau wisata alam dan lingkungan yang sekarang menjadi tren. Tetapi syaratnya, situs dan bangunan sejarah harus terpelihara dengan baik, serta menyajikan informasi secara lebih bermakna (Asep Saefullah, 2007).

Di sinilah letak problematika sentral kepahlawanan dan sosok-sosok pahlawan yang kian hari kian sulit dikenang oleh generasi sekarang. Minimnya narasi sejarah yang menerangkan secara akurat, holistik dan menarik tentang para pahlawan dan jejak kepahlawanan di masa revolusi fisik menyebabkan reduksi makna, informasi dan pengetahuan, serta antusiasme publik akan kebesaran nilai sejarah di masa-masa itu. Secara sederhana hal itu dapat diukur melalui perbandingan observasi seperti ini, misalnya, seberapa banyak warga Indonesia yang tahu dan berkeinginan mengunjungi rumah wafat dan museum pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR. Soepratman di Jalan Mangga, Surabaya, dibandingkan yang tahu dan berkeinginan mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan? Seberapa banyak warga yang tahu dan berkeinginan datang ke rumah HOS Tjokroaminoto di Jalan Peneleh, Surabaya, tempat Bung Karno indekos, dibandingkan yang tahu dan berkeinginan ke Istana Tapak Siring di Bali? Seberapa banyak warga yang tahu dan berkeinginan berkunjung ke makam tokoh Boedi Oetomo, Dr. Soetomo, di Jalan Bubutan Surabaya dibandingkan yang tahu dan berkeinginan ke makam Bung Karno di Blitar? Dan seterusnya.

Situs-situs kepahlawanan di kota Surabaya hanyalah sebagian contoh yang merepresentasikan citra dan eksistensi jejak kepahlawanan di berbagai daerah di Tanah Air. Jika saja jejak-jejak kepahlawanan di kota Surabaya yang menjadi ikon dan peletup hari Pahlawan tidak banyak diketahui dan menimbulkan antusiasme warga untuk berkunjung, bagaimana halnya dengan jejak-jejak kepahlawanan di daerah-daerah lain?

Kenali Negerimu, Cintai Negerimu

Terkait dengan wisata sejarah kepahlawanan, UU 10/2009 tentang Kepariwisataan Pasal 4 menyatakan, kepariwisataan bertujuan untuk mengangkat citra bangsa dan memupuk rasa cinta Tanah Air. Paralel dengan itu, sebagai bagian dari slogan Depbudpar RI guna mendongkrak perjalanan wisata dan pembelanjaan wisatawan nusantara (wisnu), yaitu ”Kenali Negerimu, Cintai Negerimu”, perjalanan wisata sejarah kepahlawanan terkait di dalamnya.

Karena itu, kenaikan pagu anggaran Depbudpar pada APBN 2010 menjadi Rp1,366 triliun dari pagu APBN 2009 sebesar Rp1,1 triliun perlu semakin diarahkan pada target perjalanan wisata sejarah kepahlawanan yang dilakukan wisnu. Dari jumlah itu program pengembangan pemasaran mengalami kenaikan hingga 71,28 persen dari Rp248 miliar pada 2009 menjadi Rp426 miliar pada 2010. Program pengembangan destinasi menempati pos kedua tertinggi yakni sebesar Rp130,5 miliar pada 2010 atau naik 6,32% dari tahun 2009 yang hanya Rp122 miliar. Program pengelolaan kekayaan budaya juga naik 38,25% dari Rp100 miliar menjadi Rp138 miliar.

Di antara tiga pos utama anggaran Depbudpar 2010, wisata sejarah kepahlawanan perlu dimasukkan dalam program pengembangan destinasi. Jejak-jejak kepahlawanan yang tersebar di penjuru Nusantara perlu dikemas sedemikian rupa agar semakin menarik dan mengundang antusiasme publik untuk berkunjung. Pengemasan situs kepahlawanan sebagai obyek dan daya tarik wisata melalui pembuatan narasi, renovasi dengan mempertahankan estetika dan originalitas, serta pembenahan akses infrastruktur menuju tempat-tempat bersejarah di mana para pahlawan kita dulu hidup dan berjuang. Selamat Hari Pahlawan 2009.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.